Apakah perilaku pengguna KRL sehari-hari mencerminkan Sosiologi Masyarakat?

dari dulu aq emg mikirin gitu, karakter penumpang2 di stasiun itu bisa terlihat dari tool2 seperti gate, eskalator, loket, penggunaan kartu multitrip/e-moaney/flazz vs kartu single trip

But don’t get me wrong, I’m not speaking in negative way. ..dengan penduduk Indonesia (in this case Jabodetabek) yg berlatar belakang berbeda2 baik profesi, tempat tinggal, pendidikan, dsb, maka stasiun2 KRL jadi tempat yang very practical untuk melihat cakrawala kehidupan berbagai lapis masyarakat.

1. St Bogor itu ms bnyk banget yg beli tiket di loket terutama yang berusia paruh baya ke atas dan lansia, karena emg itulah kultur orang tua kita “Antrilah di loket, untuk beli tiket” dan akan sulit untuk ‘dipaksa’ menggunakan model transaksi kartu isi ulang (mana bisa kartu itu dipake beli sayur di pasar atau ongkos angkot ). Setidakny itu yg aq tangkap dari cerita2 bersama orang2 tua pengguna KRL mengapa mereka mau capek2 ngantri panjang di loket pdhl bisa beli e-money / INdomaret Card / dsb…yaa memang secara alamiah pikiranny belum seperti generasi melek teknologi, butuh waktu berminggu bahkan mungkin berbulan menyesuaikan dengan perkembangan iptek
Pdhl kalo misalpun jarang naik KRL, cuma rugi sekitar 20 rb aja beli kartu, pulsa di dalamnya sampek taun depan pun bakal tetap ada.
Continue reading