Mencegah Tumbuhnya Bibit-bibit Perilaku Korupsi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Ayo lawan korupsi! Pesan-pesan senada dengan slogan tersebut seringkali kita baca atau dengar kapan dan dimanapun. Negara sudah meyakini korupsi adalah penyakit kronis yang benar-benar mengganggu jalannya Negara Indonesia. Sejak era reformasi bergulir, berita seputar Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) selalu rajin menghias berbagai media cetak dan elektronik. Semua berita penangkapan oknum aparat pemerintahan dan para kolaboratornya yang terlibat tindak pidana korupsi serta proses hukumnya selalu disambut hangat dan mendapat perhatian besar dari masyarakat. Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai sungguh memberi angin segar sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi bersama dengan aparat penegak hukum lainnya seperti Kepolisian dan Kejaksaan.

Namun apakah itu berarti pemberantasan korupsi hanya ada di pundak para penegak hukum dan kelompok masyarakat penggiat anti korupsi? Tentu saja tidak. Seperti dijelaskan pada Pasal 41 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, seluruh masyarakat dapat turut berperan serta di dalam berbagai upaya untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi.

Muncul pertanyaan, apakah ini artinya setiap anggota masyarakat harus melakukan apa yang dilakukan para aparat semisal mencari dan menyelidiki perilaku korupsi di lingkungan tempat dia bekerja? Tentu tidak perlu sejauh itu. Memang Undang-undang memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk melaporkan praktek korupsi yang mereka ketahui kepada aparat untuk dapat diproses lebih lanjut. Hanya saja berbicara mengenai pemberantasan korupsi, ada hal yang banyak hal lain yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu mengurangi potensi terjadinya praktek korupsi, dan itu tidak melulu terkait kegiatan operasional di lembaga atau instansi pemerintahan. Ide tulisan ini sederhana saja, praktek korupsi bisa berawal dari kebiasaan kita dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Kata kuncinya ‘pencegahan’.

Seperti apa bentuk pencegahannya? Untuk menjawabnya dapat dilihat dari pengertian korupsi itu sendiri. Menurut UU No.31 Tahun 1999, Tindak Pidana Korupsi adalah setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, yang dapat dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun dan dengan denda paling sedikit 200 juta rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah. Lebih lanjut dalam penjelasan UU No 7 Tahun 2006, disebutkan bahwa Tindak Pidana Korupsi merupakan ancaman terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi transparansi, integritas dan akuntabilitas, serta keamanan dan stabilitas bangsa Indonesia.

Berangkat dari pengertian korupsi di atas, ada sejumlah frase kunci terkait perilaku korupsi yaitu memperkaya diri sendiri, ketidakjujuran, dan ketidaktransparanan. Ide dari tulisan ini adalah mencoba mencontohkan bagaimana masyarakat bisa ikut berperan dalam gerakan anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari mengacu kepada frase-frase tersebut.

Yang pertama adalah ketidakjujuran. Kata jujur tentu mengandung implementasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan. Berbicara tentang pemberantasan korupsi, sikap jujur bisa dipupuk sedari masih kecil. Anak-anak oleh orang tua ataupun guru di sekolah diajarkan untuk menghargai uang dan jujur dalam berperilaku yang menggunakan uang. Yang paling mudah contohnya pembayaran uang sekolah atau biaya lain yang wajib dibayar siswa. Seorang anak haruslah diajarkan untuk memberitahu orangtuanya mengenai berapa besar biaya / tagihan yang harus dibayar secara benar. Hal ini juga dapat dikontrol dengan membimbing anak untuk meminta kuitansi penerimaan uang dari sekolah setelah membayarkan. Ini bisa menumbuhkan sikap jujur dan bertanggungjawab dalam setiap penggunaan dana. Apa yang dibayarkan sesuai dengan apa yang memang diminta. Dan ada bukti hitam di atas putih untuk memperkuat fakta bahwa proses pembayaran telah dilakukan dengan benar. Harapannya sikap seperti ini dapat terus dibawa hingga dewasa nanti, sehingga setiap orang bisa jujur dan bertanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukannya terkait permintaan dan penggunaan dana.

Hal kedua yang dapat dilakukan adalah yang berkaitan dengan transparansi. Contoh yang paling mudah dalam membuat proposal pengajuan atau permohonan dana. Ada banyak kegiatan atau acara yang membutuhkan dana seperti kegiatan acara pentas seni. Dalam kenyataan seperti penulis sering alami, saat mengajukan proposal dana biasanya item-item kegiatan yang membutuhkan dana tentu akan disajikan di dalam proposal lengkap dengan kebutuhan anggarannya. Kesulitan yang sering muncul adalah biasanya panitia belum tahu angka pasti kebutuhan anggaran yang diperlukan, sehingga angka yang dituliskan adalah hasil perkiraan atau asumsi. Di sinilah momentum di mana batas antara kejujuran dan kebohongan amat tipis. Akan ada godaan untuk memperbesar angka kebutuhan dari yang seharusnya, atau lebih dikenal dengan istilah mark-up. Benar kalau memang angka-angka itu tidak bisa diprediksi sebelumnya. Namun alangkah baiknya apabila setelah acara selesai dilakukan, panitia membuat laporan penggunaan dana secara sebenar-benarnya sesuai yang telah dikeluarkan. Jadi meskipun ada uang berlebih, setidaknya hal tersebut dilaporkan secara jujur kepada para penyandang dana dan stakeholder acara. Mungkin saja uang lebih itu apabila tidak ditarik kembali, dapat dimanfaatkan untuk syukuran makan bersama panitia atau dimasukkan ke kas organisasi

Yang terakhir adalah memperkaya diri sendiri. Untuk hal ini istilah serakah dan mata duitan kiranya tepat menggambarkan latar belakang seseorang tergoda untuk memperkaya diri sendiri. Apalagi dalam kegiatan-kegiatan di instansi pemerintahan yang banyak melibatkan penggunaan dana, ada banyak kesempatan oknum-oknum melakukan manipulasi penggunaan atau permintaan dana dimana sebagian dana tersebut masuk ke kantong sendiri. Sepertinya berita-berita kasus korupsi di media cetak dan elektronik sudah cukup jelas memberikan pengetahuan bagi masyarakat secara garis besar bagaimana perilaku memperkaya diri sendiri dilakukan oleh para koruptor.

Pada kenyataannya memang setiap orang di dunia ini membutuhkan uang. Oleh karena itu peran nilai-nilai agama dan keluarga sangatlah diperlukan sebagai benteng menghadapi godaan korupsi memperkaya diri sendiri atau kelompok. Nasihat untuk selalu hidup sederhana dan berkecukupan, tidak serakah, dan tidak merugikan orang lain dapat ditemukan dengan mudah dalam berbagai ajaran agama. Tidak ada agama di Indonesia ini yang secara eksplisit maupun implisit menganjutkan pengikutnya untuk mencari harta duniawi sebanyak mungkin. Pengetahuan inilah yang kiranya dapat diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru agama atau pemimpin / pengkothbah agama kepada murid atau jemaatnya secara terus menerus. Niscaya pandangan hidup penuh kesederhanaan dan tidak serakah bisa meresap di sanubari banyak orang yang pada gilirannya akan menjadi benteng tangguh di dalam jiwanya saat menemukan berbagai kesempatan melakukan praktek korupsi.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa gerakan melawan korupsi bukan semata-mata tugas dari para aparat hukum maupun para penggiat anti korupsi. Melawan korupsi pada hakikatnya adalah kewajiban setiap warga Negara yang cinta tanah air dan tak mau menyaksikan negaranya terpuruk keadaannya akibat perilaku korupsi yang merajalela. Dan melawan korupsi bukan harus dalam bentuk menyelidiki dan mencari para pelaku korupsi serta menganalisis tindakan korup yang dilakukannya. Namun bisa dimulai dari perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang menjunjung tinggi kejujuran, transparansi, dan hidup sederhana berkecukupan tanpa ada maksud untuk memperkaya diri sendiri dengan melanggar aturan.. Adalah kearifan setiap dari kita untuk cepat memahami dan tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dan cenderung memperkaya diri sendiri maupun kelompok. Mari kita berjuang melawan korupsi mulai dari kehidupan kita sehari-hari.

 

 

Penulis : Bungur Togi Andre Sihotang (Andre)

Advertisements

One thought on “Mencegah Tumbuhnya Bibit-bibit Perilaku Korupsi Dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Pingback: UJIAN PRAKTIK BLOG-NO: 9A – 24 | Paul's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s