Masih Ada Selain R.A. Kartini

Saya termasuk yang berpendapat ada banyak pahlawan wanita lain selain R.A. Kartini dalam menggambarkan keberanian dan perjuangan wanita di Indonesia (meski sah-sah saja apabila R.A. Kartini dijadikan simbol Indonesian woman movement) Tidak terlalu urgent sih, tetapi kalau membaca artikel2 tentang Hari Kartini, entah kenapa pahlawan-pahlawan wanita lainnya seperti jarang di-ekspos dibandingkan dengan R.A. Kartini, meski mereka lebih hebat bahkan hidup dalam kemiskinan dan sampai mengorbankan nyawa dalam penderitaan demi membela tanah air. Fokus di tulisan ini lebih pada sedikit meng-expose kisah kepahlawanan srikandi-srikandi Indonesia lainnya yang mungkin belum diketahui atau seperti terlupakan. Saya coba membatasi terhadap pahlawan nasional yang telah diakui secara ofisial oleh Pemerintah RI (IMO Sri Mulyani, Risma Tri, Christine Hakim, dan Butet Manurung sudah bisa juga disebut Srikandi Indonesia juga) Let’s go!

1. Cut Nya Dhien

Perang Aceh – Belanda yang berlangsung 40 tahun merupakan perang terlama dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan INdonesia. Dan Cut Nya Dhien adalah pemimpin perjuangan yang berjuang dari awal dan hidup sampai akhir perang berkepanjangan tersebut. Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu bahkan memberikan banyak sekali kerugian baik dari segi materil maupun korban jiwa di tentara Belanda. Sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi sekalipun tidak pernah berhasil. Meski tokoh2 perjuangan Aceh lainnya telah banyak yang gugur atau tertangkap – termasuk kedua suaminya yang gugur dalam perjuangan, salah satunya Teuku Umar – namun Cut Nya Dhien tetap keras kepala dan terus bergerilya melanjutkan perjuangan bahkan sampai jelang awal Pergerakan Nasional di Jawa. Kondisinya pun memburuk, penyakit encok dan rabun serta ketuaan pun menyerangnya, sampai akhirnya panglima perangnya merasa kasihan dan membocorkan keberadaanya kepada Belanda. Saat ditangkap ia masih memberontak namun berhasil ditangkap. Mungkin karena segan atau hormat, ia tidak dihukum fisik atau mati tapi dibuang ke Tanah Jawa yakni Sumedang hingga akhir hayatnya. (disarikan dari )

2. Cut Meutia
Kepahlawanan Cut Meutia IMO jauh lebih mengharukan dibandingkan Cut Nya Dhien apalagi R.A. Kartini. Salah satu pahlawan Perang Aceh, ia turut berjuang meski harus kehilangan kedua suaminya yang gugur – yang pertama dihukum mati oleh Belanda dan yang kedua gugur dalam pertempuran. Dalam kondisi yang terdesak, ia bersama anaknya yang masih 11 tahun Raja Sabil terus berpindah2 hutan sampai akhirnya tentara Belanda mengepungnya. Daripada menyerah, ia memilih bertempur habis-habisan. Pada akhirnya, dalam perang yang tidak seimbang ia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menyerang tentara Belanda di depannya dengan rencong – namun sayang 3 peluru menembus tubuhnya dan iapun gugur.. Suatu keberanian yang luar biasa tak terbayangkan, apalagi ia seorang wanita.

3. Christina Martha Tiahahu

Mungkin banyak yang tidak tahu nama ini (Kapiten Pattimura lebih dikenal sebagai pahlawan perjuangan rakyat Maluku), tapi ia turut ikut ke medan perang berjuang melawan Belanda. Istimewanya, sejak remaja ia mulai berjuang melawan Belanda bergerilya bersama ayahnya, dan rambut panjang serta ikat kepala menjadi ikon penampilannya. Satu kisah pilu, ia menyaksikan sendiri ayahnya yang tertangkap diadili dan di depan mata melihat, menghadapi langsung eksekusi kematian ayahnya dihukum gantung oleh penjajah. Pada akhirnya setelah berperang sekian lama ia tertangkap juga, dan instead of dihukum mati, ia dibuang ke Pulau Jawa. Namun di kapal ia memilih tidak makan minum walaupun dibujuk oleh para tentara Belanda, sehingga akhirnya menderita sakit dan wafat di kapal. Jenazahnya di’kubur’ dengan upacara militer oleh Tentara Belanda di laut Banda.

4. Dewi Sartika

Okay, mungkin ketiga pahlawan perjuangan kemerdekaan di atas memiliki perbedaan medan perjuangan dengan R.A. Kartini. Namun untuk Dewi Sartika, beliau memiliki platform perjuangan yang mirip R.A. Kartini, dan entah kenapa seperti di’overlooked’ oleh berbagai buku, karya sastra, dan memorabilia perjuangan Indonesia. Ialah yang dengan nyata memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi wanita, tidak hanya pria saja. Lahir dari kaum bangsawan Sunda yang hidup dalam berbagai batasan adat istiadat bagi perempuan waktu itu, ia berjuang untuk belajar baca menulis, bahasa Belanda, dan kultur tradisional untuk kemudian disebarluaskan. Ia mendirikan sekolah (waktu itu dinamakan Sakola Istri atau Sekolah Perempuan) dengan jumlah pengajar, jumlah murid, dan lokasi sekolah yang awalnya sedikit tapi semakin banyak, oleh karena concern-ny terhadap pendidikan untuk meningkatkan martabat asyarakat. Dalam periode waktu yang tidak terlalu lama, sekolah sejenis sudah ada di berbagai karesidenan di Pasundan dan akhirnya ide yang sama mulai diterapkan di daerah lain. Kebanyakan dari dana untuk mendirikan sekolah-sekolah itu melalui uang kantungnya sendiri ditambah bantuan-bantuan dari pemerintah termasuk bintang jasa dari Belanda. Makamnya terletak dekat sekali dengan Daerah Perbelanjaan Kebon Kalapa dan Alun-alun Bandung. I still mean that Dewi Sartika lebih nyata dan banyak karyanya dibandingkan R.A. Kartini, but that’s not a big deal, keduanya tetaplah pahlawan wanita hebat dari tanah air.  ðŸ˜€

5. Haji Rangkayo Rasuna Said

Sepertinya lebih banyak yang tahu nama ini sebagai nama jalan di Segitiga Emas, CBD Jakarta, dan juga sebagai alamat Kantor KPK yang sering masuk TV 😀 Sama seperti R.A. Kartini, ia juga memperjuangkan emansipasi wanita namun cara yang dilakukan jauh lebih radikal dari Kartini meski tanpa kekerasan atau perjuangan bersenjata. Dituliskan dalam sejarah ia sudah aktif dalam organisasi di zaman Pergerakan Nasional, dan sering berpidato keras menentang kebijakan Pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Tak urung akibatnya ia pernah ditangkap dan dipenjara. Saat penjajahan Jepang ia juga mendirikan sebuah organisasi yang akhirnya dibubarkan oleh Jepang. Setelah Indonesia merdeka, ia pernah duduk menjadi anggota perwakilan rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung. Langkah-langkah politiknya itulah yang membuat saya berpikir ia juga jauh di atas R.A. Kartini dari segi perjuangan – at least nama jalan yang menggunakan namanya di Jakarta adalah salah satu Jalan Protokol terpenting di Ibukota Negara ini dan penuh dengan bangunan2 modern dan bertingkat.

Beberapa link buat membaca detail mengenai pahlawan-pahlawan di atas (boleh di-googling yang lain) http://www.albumpahlawanbangsa.wordpress.com
http://www.serbasejarah.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Pahlawan_Nasional_Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s