Sedikit Ulasan Seputar Indonesia dan Rokok di Mata Internasional

Tadi saya terkejut baca berita di Internet, di beberapa media Australia yang mengungkit fakta bahwa Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang masih belum ‘mau’ meratifikasi resolusi World Health Organization tentang Kontrol Penggunaan (Konsumsi) Tembakau. Di beberapa berita tersebut diulas betapa Kelly Clarkson, Smashing Pumpkins, Wolfmother, Alicia Keys, dan The Vines sempat dipaksa oleh LSM dan organisasi di negaranya untuk membatalkan konsernya di Indonesia gara2 konser mereka disponsori oleh industri rokok. Walau akhirnya mereka rela mengorbankan ‘sedikit’ integritasnya demi fans musik Indonesia yang sudah mengeluarkan biaya membeli tiket demi menonton konser musik mereka di Indonesia, tanah air kita yang belakangan ini sedang hangat2nya menjadi incaran para musisi Barat untuk tur Asia setelah Jepang, Singapura, Korea, dan Thailand.

Di dunia ini ada 3 negara terkemuka produsen tembakau yaitu China, Brazil, dan India. Dulu Indonesia terkenal oleh Tembakau Deli-nya, namun kini perkebunan tembakau tersebut udah menghilang dari peredaran berita. Isu mengenai rokok sudah lama menjadi perhatian di seluruh dunia bahkan jauh sebelum komputer dan televisi merajai kehidupan manusia saat ini. Maklum saja, mengisap cerutu merupakan suatu tradisi dan kebiasaaan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dan para ilmuwan di Barat sana sudah tak terhitung banyaknya mengeluarkan hasil riset dan rekomendasi betapa banyaknya risiko yang ditimbulkan oleh rokok. Tidak butuh periode lama bagi hampir sebagian besar negara di dunia (terutama negara maju) yang kini dengan ketat membatasi peredaran dan konsumsi tembakau….namun tidak dengan Indonesia.

Tembakau, Nikmat Membawa Sengsara

Tembakau, Nikmat Membawa Sengsara

Kalau di India sini, penggunaan rokok sangat dibatasi lokalisasinya (aku belum dapat gambaran jelas bagaimana tingkat konsumsinya). Penduduk India hanya boleh merokok di tempat2 yang bukan tempat publik. Di jalan raya, terminal, bus, kereta api, sekolah, dan tempat umum lainnya petugas akan langsung mendenda sebesar Rs 300-1000 (Rp 60.000 – Rp 200.000) bagi yang kedapatan merokok. Ah, coba mereka ke Indonesia, orang merokok di mana-mana tanpa perduli dengan orang lain di sekitarnya. Asap mengepul yang mungkin kalau dihitung jumlahnya bisa menyamai volume asap kendaraan bermotor di jalan raya.

Berita2 internasional umumnya menyebutkan 70 % pria di Indonesia adalah perokok, dan 200.000 orang setiap tahunnya meninggal karena asap rokok. Mereka juga mengungkit betapa Indonesia menerima pemasukan besar dari industri tembakau, serta banyaknya tenaga kerja yang mengais nafkah dari budidaya tanaman ini. Mereka juga memfokuskan betapa industri rokok banyak sekali menjadi sponsor2 kegiatan publik seperti festival musik, pendidikan, pameran, kampanye, pentas seni, dan sebagainya…padahal di Indonesia kebanyakan orang sama sekali nggak begitu peka dengan masalah sponsorship beginian. Dan yang emang sangat parah adalah industri rokok tersebut mengincar kaum muda dengan produk rokoknya, sehingga ketergantungan generasi muda terhadap rokok di Indonesia tergolong yang paling tinggi di dunia. Mau gimana lagi, dalam acara2 publik tersebut siapa yang menolak rokok gratis atau sebungkus rokok brand ‘mewah’ dengan harga miring. Sungguh parah namun demikianlah kejadiannya.

Boy Ardi Rizal, anak 5 thn perokok dari Indonesia yang video dan foto merokoknya menggemparkan pengguna Internet seluruh dunia. Dan segera mengundang kritikan kepada Negara dan Pemerintah RI,

Boy Ardi Rizal, anak 5 thn perokok dari Indonesia yang video dan foto merokoknya menggemparkan pengguna Internet seluruh dunia. Dan segera mengundang kritikan kepada Negara dan Pemerintah RI,

Pantas saja saat masih menjabat Menteri Keuangan Sri Mulyani sangat gigih dalam memperjuangkan kenaikan Pajak Tembakau yang tentu pada gilirannya akan menurunkan angka konsumsi rokok. Sebuah upaya yang banyak mendapat tentangan dari para petani tembakau dan (tentu saja) kalangan pengusaha rokok. Buah simalakama juga, mengingat pendapatan dari pajak rokok merupakan salah satu sumber pemasukan ekonomi Indonesia selain Migas dan Pariwisata. Rumit emang, aku masih enggak bisa membayangkan bagaimana mungkin suatu saat nanti Indonesia akan mampu mengontrol penggunaan rokok sekaligus menurunkan jumlah pengguna rokok terutama di kalangan generasi muda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s