Led Zeppelin : Celebration Day DVD Release

After much question and speculation, come the day of releasing the Led Zeppelin Reunion Concert 2007 in DVD. They proudly gave it a great name “Celebration Day”

12121

‘Till this day, I always think that the 16.000 people won the online ticket lottery for Led Zeppelin’s concert in 2007 are the luckiest people on earth.

Frankly speaking, I haven’t purchased it yet (budget reason). Sure, I will buy it at a time. But I can’t resist not watching it on INternet. While I tried my best to keep my interest by watching them in lower quality, I can’t lie. I feel the goosebumps! It was a tremendous show, and watching the three heroes with Jason playing together in such intense and fantastic circumstance plus unstoppable screaming from enthusiastic crowds, I know it feels like heaven. Those 4 people really enjoyed themselves.

Now I can’t wait to purchase “Celebration Day” soon and enjoy the ecstasy of the show!

My Comparison between English Premier League and Spanish Primera League

As an European Football fan, of course as with many other fans around world, I think that both of EPL and La Liga stand out as two of the best football league in the Europe continent (automatically become the best in the world in terms of quality and popularity)

Of course everybody has their own cup of tea of the best. To me La Liga cannot hold a candle to EPL because of those reasons below (please note that I am only another football fan from Asia which do not have a space to research or verify all the things about both of this football leagues, this is just simply an opinion from a common fan)

1. First is simple, the key word is diversity. How many clubs have won the league title over the last 10 years, 20 years? And how many clubs got the 2nd place?

2. I don’t know why but it is always visible that

    most of the ‘other’

La Liga clubs have already throw the towel in the first 10 or 20 minutes of the game against either Barcelona or Real Madrid.

3. Half of the season we can easily predict who will compete for the La Liga title, and the rest of the positions become unimportant except for each club’s fans. While in EPL usually there will be 3-4 teams to the cup with 1 or 2 sniffing around. But unlike its counterpart, EPL is also show great competitiveness for Champions League spot, Top 10 place, and surprisingly the relegation battle. Towards the end it is dice that low positioned club can beat top 5 teams because they are fighting for not to be relegated.

4. Can you mention 20 players from other La liga Clubs easily excluding Barca and Madrid? In EPL somehow it’s easy, and yes the comentator and media played a big part in ‘publishing’ players from the clubs that are not even on the Top 10.

5. The level of competition in EPL is very HIGH. Don’t underestimate lower clubs, they can bring nightmare and this happens often (eh, how many times do you hear a lower club beat Barca or Madrid? No it should be a party of goal for both clubs)

6. In EPL most of the games end at 90th minute (regardless of extra time) while in La Liga there are many games I have watched had already stopped de-facto if an opponent has won with 2 or 3 or more goals gap.

My Top 10 : Film Indonesia Favoritku

Sebenarnya bukan penggemar film lokal (abis sebagai fans, menurutku film2 domestik masih kalah jauh dari film2 impor baik segi cerita, teknologi, maupun akting). Tapi tak ada salahnya mencoba me-review balik, dan setelah memilah2 inilah 10 film Indonesia favoritku. Adapun titik berat pemilihan lebih kepada tema cerita dan kualitas akting untuk mengimplementasikan skenario cerita sehingga alur cerita cukup enak diikuti dari awal sampai akhir. Tentu aja film2 ini udah pernah aku tonton, jadi film2 era 80-an ke belakang tidak masuk hitungan (kecuali film Warkop yg samapi saat ini trus2 diputar ulang di layar televisi)

Semoga aja ke depannya sineas2 tanah air meneruskan kreativitas menghasilkan film2 yang berkualitas dan mampu bersaing, gak melulu seputar ‘cewek berambut panjangberbaju putih yang bisa terbang’ dan ‘cerita2 yangsebaiknya tidak diketahui anak kecil’ 🙂

Ini daftarnya (urutan tidak berdasarkan peringkat)

  • Laskar Pelangi

Rasanya enggak ada deh yang bisa membantah kualitas film yang satu ini, baik dari segi cerita maupun akting. Hasil terjemahan novel seorang Andrea Hirata ke dalam pita film begitu menarik perhatian semua kalangan pecinta film maupun penonton. Cerita mengenai mimpi sekumpulan anak2 sekolah nan lugu yang mempunyai cita2 namun ‘dibatasi’ lingkungan sekolah dan alam yang serba terbatas. Lokasi syuting di Belitung menambah kesan ‘Indonesia’ film ini, tidak sperti kebanyakan film lokal yg mengambil syuting di Pondok Indah, Menteng, Monas, dsb… Two thumbs up!

  • Ada Apa Dengan Cinta

Apa ‘kesalahan’ film ini sehingga ia menjadi yang paling bertanggungjawab membuat semua penonton film Indonesia terbuai pesona2 jam alur cerita AADC? Padahalboleh dibilang ni film memiliki skenario yang teramat sederhana, dan anak2 kampus jurusan seni pasti bisa membuat skenario yang tidak jauh beda. Ceritanya? Kisah Cinta? Akting Niko dan Dian? Soundtrack?Setting? Sutradara?<br> Ah, rasanya semua jawaban di atas benar. Kombinasi ‘kesempurnaan’ faktor2 di atas begitu padunya sehingga membuat tahun 2002 dalam sejarahsinema Indonesia seakan-akan hanya diisi AADC, AADC, dan AADC. Kayaknya aku gak usah jelasin panjang lebar lagi, pasti sahabat blogger udah ngerti. Yang pasti aku yakin semua setuju AADC adalah salah satu film terbaik Indonesia kalau bukan yang terbaik.

  • Get Married

Selalu menyenangkan menyaksikan chemistry Ringgo – Desta di layar. Get Married’, mungkin ceritanya enggak original namun akting kedua cowok gokil ditambah kisah cinta yang mencerminkan film2 percintaan kolot (ganteng, kaya, cool ama sederhana, bawel, bebas), cerita persahabatan Nirina dan 3 cowok lucu, serta setting yang betul-betul humanis dan Indonesia banget….semuanya bersatu padu dalam sebuah film komedi yang benar-benar friendly dan menghibur

  • Warkop DKI (yang mana aja)

Mungkin kedengaran jadul, tapi berhubung aku gemar banget nonton film komedi, maka ketiga ‘orang sinting’ ini wajib hukumnya muncul dalam Top 10 film Indonesia favoritku. Soal cerita gak usah aku jelasin lagi yah, mungkin udah banyak sahabat blogger yang mau muntah gara2 nonton film-film mereka yang enggak habis2nya diputar di TV meski udah berumur lebih dari15 tahun bahkan 20 tahun. Yang pasti kepergian Wahyu Sardono dan Drs. Kasono Hadiwibowo (anda gak salah liat, Drs.) betul2 sebuah kehilangan besar bagi dunia perfilman Indonesia.

Chemistry antara ketiga aktor Dono, Kasino, dan Indro begitu sempurna dan tak ada tandingan..termasuk penokohan karakter masing2 (Dono yg berwajah paling ndeso, selalu sial dalam hal mendapatkan cewek {makanya dlm film dn serial Warkop DKI ia tidak pernah terlihat berpasangan}, Indro yang paling hidung belang dan bermuka paling lucu, serta Kasino yang bersuara cemprang, sok bijaksana dan bermedok paling lucu). Kalau aja Desta dan Vincent mau ninggalin dunia musik dan serius menekuni dunia lawakan, mungkin trio Ringgo-Desta-Vincent bisa jadi Warkop DKI baru..

  • Denias (Senandung di atas Awan)

Film bertema seperti inilah yang harusnya diperbanyak para sineas kita. Tema cerita yang dapat menggugah siapa saja orang Indonesia yang menontonnya, sekaligus membangkitkan lagi semangat cinta tanah air para generasi muda. Pendidikan yang seolah (dan memang) menjadi barang mahal bagi sebagian besar kelompok masyarakat. Selain itu eksploitasi keindahan alam Papua (entah kenapa rasanya refreshing menonton film dgn setting di luar Pulau Jawa) berhasil menceritakan bagaiman keadaan di sana yang serba terbatas dan butuh perhatian lebih dari pemerintah kita.

  • Jomblo

Konyol abis. Dan film ini sukses membuatku mengenang saat2 dimana aku masih jomblo selama bertahun2 dan sama sekali enggak perduli dan masa bodoh dengan yang namanya relationship. Film komedi yang betul-betul menghibur, kalau aja Komeng dan Aming ikut bermain di dalamnya mungkin aku udah menderitasakit perut permanen.

  • Mengejar Matahari

Sebuah film mengenai arti persahabatan. Kisah empat orang cowok yang membina persahabatan sejak kecil, dan suka melakukan permainan ‘mengejar matahari’ yaitu berlomba lari dari satu titik ke titik lainnya di lingkungan rumah susun tempat mereka tinggal. Konfil, intrik, serta setting cerita yang sangat humanis (rumah susun yang identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah) ditambah soundtrack yang mungkin menjadi lagu Ari Lasso favoritku, semuanya diramu dalam sebuah film realita yang pantas untuk didokumentasikan dalam sejarah perfilman Indonesia.

  • Ramadhan dan Ramona

Rasanya belum ada deh film percintaan yang begitu menarik di mataku seperti film yang satu ini. Cerita yang sangat khas, walau sederhana namun berhasil memberi pesan tersendiri serta menyentuh berbagai sisi kehidupan lainnya seperti kehidupan masyarakat kecil serta perbedaan budaya. Akting Lydia Kandou dan Djamal Mirdad (hah, pasangan suami istri?) begitu membumi dan membuat jalannya film ini sangat enak ditonton, seperti saat mereka berkejar2an diMetromini Jakarta.Greget cerita AADC pun menurutku masih kalah dengan film ini. Kesalahan satu2nyafilm ini adalah lahir di era 90-anyang merupakandekade jurangsinema Indonesia.Coba deh ditonton, lumayan segar dengan sedikit bernostalgia ke era om dan tante kita.

  • Tjoet Nja’ Dhien

Banyak orang bilang Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan panutan wanita Indonesia. Menurutku, Cut Nya Dhien-lah adalah Srikandi no.1 Indonesia. Dengan menonton film ini, kiranya sahabat blogger akan mengerti. Pantang menyerah, kuat, teguh dalam pendirian, jiwa kepemimpinan, tak pernah mengeluh, cerdas dalam strategi, tidak mudah panik, dan lainnya membuat dialah salah satu Pahlawan paling hebat yang pernah dimiliki tanah air. Cut Nya Dhien berjasa dalam mempertahankan Aceh, dimana Perang Aceh menjadi Perang terlama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia (40 tahun).Truly IkonWanita Indonesia.

  • Nagabonar Jadi Dua

Masih ingat pas Deddy Mizwar turun dari bemo sewaktu keliling Kota Jakarta, terus berteriak kepada Patung Jenderal Sudirman untuk menurunkan tangannya karena tak ada yang pantas untuk dihormati di tanah ini? Dan tiga kata ajaib “Apa kata dunia?” yang pengaruhnya begitu terasa di masyarakat kita, bahkan sampai saat ini masih menjadi salah satu sentilan atau celetukan terpopuler. Sebuah film yang mencoba menyindir nasionalisme yang terasa semakin memudar dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Wajib tonton deh sahabat blogger, kalo blum pernah nonton..

*********************************************

Nahh, ketahuan kan kalo aku bukan penggemar film cinta2an atau sejenisnya. Aku juga enggak begitu favorit ama film horor atau action (except Western movie) . Selain itu film2 dari era 90-an juga jarang, abis dekade itu adalah lubang hitam film Indonesia, kuburan, ampir semua film2 di era itu ancur smua, sebelum revival, dibangkitkan kembali oleh AADC 🙂

Cheers ^_^