A Quick glance to Indonesian and Malay Languages

For those who don’t know, Indonesian language is the national language of Indonesia while Malay language is the national language in Malaysia, Brunei Darussalam and one of the official language of Singapore. Both languages especially Malay is also understood in Southern part of Thailand.

It seems easy people tend to say that Malay have more native speakers than Indonesian. However with population of Indonesia outnumbered population of those three countries, Indonesian language seems more popular. Nevertheless, there are many Indonesian provinces especially in Sumatra Island like Riau, Jambi, Kepulauan Riau speak Malay as their second language. And Indonesian origins in some Malaysia states like Negeri Sembilan and Johor can also speak Indonesian in very good level.

It’s never a problem. What I want to share is some of my opinions about the using of both languages. There are many similarities between the language that made two or more person speaking with both languages can understand to each other. I’ve heard some stories that some foreigners wondering how Malaysian and Indonesian can speak and understand with their own language. And also some tourist diaries questioning why they felt like they’re still staying in one country while they have already crossed Malacca strait because of hearing people in both countries speaking very similar words.

Indonesian borrowed many Dutch vocabularies mixed with old Malay, Java language, Sunda, Minang, and other variant local language in Indonesia. Malay itself is actually a very old language with evolution and change including, borrowing a lot from English, turn it into a modern Malay language like we heard today. It makes sense since Indonesia was under Nederland colonial government before 1945 Independence Day while Malaysia, Singapore, and Brunei were under United Kingdom colonial government before 60’s decade

Actually the origin Indonesian during Sukarno regime (Indonesia first president) had much differences with Malay. But enter the 60’s and 70’s decades, Indonesian language experts and respective Government Official Department decide to adjust and re-arrange Indonesian language, and now the modern Indonesian is very similar to Malay.

I will try to write new blog about their technical similarities and differences, plus the using of both of them next time.

Ahmad Yani Park, Medan

These are photos of the greenly Ahmad Yani Park in Medan, my home town. Named after our Indonesian hero who sacrificed himself during revolution era in 1965 to tackle the communist rebels in Indonesia.

I went there in 2011 with my nephews, uncle, and cousin to enjoy some relaxing and refreshing air just in the middle of the city. With so many green plants and high trees added with great landscape design, it is a very good place to take our wheel off and spend some rest. I heard that last month the city’s government have added some children and sports tools to make the park more enjoyable. That’s great

Lush

Lush

My family still for a capture

My family still for a capture

Unique banana tree

Unique banana tree

My nephews enjoyed their lunch

My nephews enjoyed their lunch

Children's area

Children playing ground

552033_3992950073605_502127942_n

Industri Musik Sekarang

Zaman millenium ini diperkirakan oleh banyak pihak dan pengamat musik sebagai kuburan industri rekaman musik terutama kaset dan CD. Bila di era 90-an toko2 kaset dan CD selalu diramaikan oleh pengunjung untuk membeli kaset musik musisi idola mereka, serta setiap toko ramai2 memikat pengunjung mal dan plaza dengan dekorasi yang cantik dan memutar lagu2 yang sedang populer, di zaman sekarang semakin sulit ditemukan. Coba deh sekarang ini cari toko musik di Mal Taman Anggrek atau di pusat perbelanjaan lainnya, pasti bakal agak sulit menemukannya..

Kini perkembangan internet dan telekomunikasi seluler telah merubah semuanya. Sangat mudah sekali untuk mendapatkan lagu2 favorit dari internet dengan mendownload dari ribuan situs download mp3 baik yang free maupun berstatus share between membership. Untuk HP, industri ringtone dan sebagainya adalah wajah baru industri musik saat ini yang terus bergelimang dan mengundang banyak enterpreneurship2 baru. 19303_meja_okhttp://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://wb5.itrademarket.com/pdimage/03/19303_meja_ok.jpg&imgrefurl=http://indonetwork.co.id/Dotnet/19303/mesin-box-ringtone-foto-box-smsclub-rilo-yess-point.htm&usg=__-6Je9n35ul0EsnxNEtSGM5IuOJs=&h=720&w=576&sz=168&hl=id&start=5&zoom=1&itbs=1&tbnid=5iQGvCC_sQpwLM:&tbnh=140&tbnw=112&prev=/images%3Fq%3Dtoko%2Bringtone%26hl%3Did%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1

Kini kios2 kecil penjual ringtone dan berbagai hal terkait HP dan musik lainnya sangat mudah ditemukan di supermarket dan plaza. Omzetnya pun lumayan banyak sehingga diperkirakan industri ini masih akan tetap hidup untuk beberapa lama ke depan. Satu lagi keunggulan download adalah, kini para konsumen dapat memiliki lagu2 favorit yang mereka inginkan dari berbagai musisi dan jenis musik, tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya lagi untuk membeli sekian banyak kaset dari penyanyi2 berbeda gara2 lagu2 favorit yang tidak ada dalam satu kaset. Alias, kini penggemar musik bisa membuat ‘album kompilasi’ sendiri di HP atau komputernya tanpa perlu mendengar lagu2 lain yang ia kurang suka.

Tidak ada yang salah dari fenomena di atas. Itulah implikasi kemajuan era teknologi informasi di Millenium Ketiga ini. Namun ada juga sih yang ingin aku kritisi dalam proses ‘matinya’ industri musik kaset dan compact disc. Siapa suruh pemerintah menetapkan pajak yang tinggi bagi produksi rekaman musik? Bayangkan saja sekarang harga satu kaset album rekaman seorang musisi lokal berharga Rp 20.000 dan musisi luar berharga Rp 25.000. cd_storeUntuk CD lebih mahal lagi, lokal Rp 35.000 – Rp 55.000 dan musisi luar Rp 40.000 – Rp 75.000. Lha, kantong siapa yang sanggup untuk dikosongkan sebanyak itu, padahal paling2 konsumen hanya membutuhkan 1 2 3 lagu hit dari album tersebut, sementara sisanya pelengkap saja. Belum lagi bila konsumen ingin mencari lagu hit dari musisi lain, ia harus membeli kaset/CD nya juga. Bangkrut deh!.. Gimana orang enggak nge-download atau mengkopi file musik? Gratis, dan bisa milih lagi.

Emang harga2 tersebut diakibatkan penyesuaian oleh prosedur musik karena pajak yang ditetapkan pemerintah termasuk tinggi. Untuk orang yang berkantong tebal, atau penggemar musik sejati yang emang sangat nge-fan dengan musisi idolanya, membeli kaset dan CD adalah suatu kebanggaan. Tapi untuk penggemar musik lainnya, membeli kaset dan CD rasanya perlu diprioritaskan di urutan paling belakang atau bahkan tak perlu dilakukan. Mendingan beli barang kebutuhan yang lain aja deh..

Yah demikianlah pemandangan umum industri musik kini. Produser musik kini lebih memprioritaskan anggaran ke penyelenggaraan konser musik (yaa, mana bisa didownload suasana dan kemegahan sebuah konser musik) serta industri ringtone HP yang semakin menjamur. Kasihan juga sih melihat musisi2 yang kehilangan penghasilan dari hasil penjualan kaset dan CD, yang merupakan hasil karya terbaik mereka dalam bermusik. Selain itu kasihan juga melihat toko2 musik yang semakin banyak gulung tikar dan pegawainya kini menjadi pengangguran.